Pemilihan Duta Wisata Indonesia Online(PDWIO) Edisi Keempat sudah dimulai seminggu lalu. Dimana saat ini dari 31 kontestan akan berjuang untuk masuk di babak 15 besar. Salah satunya adalah lewat jalur cepat atau Fast Track. Dalam PDWIO 4 ini TAW menyediakan 2 fast track yaitu People Choice(Dipilih dengan like foto profil peserta) dan juga Wonderful of Indonesia(Setiap peserta mempresentasikan potensi daerahnya masing-masing). Pemenang kedua fast track akan dapat melaju langsung ke babak 15 besar.

Thulik fahri Zulfikar, wakil Banyuwangi 1 yang memenangkan Fast Track People Choice

Yune Meilisa Dwi Ayu Novita dari Bojonegoro 2, menjadi pemenang People Choice untuk Kontestan Putri

Pada Fast Track People Choice, Wakil Banyuwangi 1 Thulik Fahri Zulfikar mendapat suara terbanyak dan berhak memenangi People Choice. Dibalik kemenangan Thulik Fahri atas Duta Favorit PDWIO 4 ada sebuah hal unik dimana dia mendapat Duta Favorit menjelang Hari Ulang Tahunnya yaitu hari ini(24/3). Selain itu tahun ini TAW juga memilih Duta Favorit untuk kontestan perempuan yaitu jatuh kepada Wakil Bojonegoro 2 Yune Meilisa Dwi Ayu Novita.

Pemenang Fast Track WOnderful of Indonesia : Mekhanai Rama Pratama(Bandar Lampung)

Bukan hanya pada People Choice, kontestan PDWIOP juga bersaing tempat fast track “Wonderful of Indonesia” dimana peserta diharuskan memposting potensi daerah mereka. Akhirnya Mekhanai Rama Pratama dari Kota Bandar Lampung berhasil mendapat juara untuk fast track ini dengan membawa judul “Gamolan”.

Berikut presentasi dari Mekhanai Rama Pratama mengenai Alat Musik “Gamolan”,

TAUKAH ANDA ASAL MULA ALAT MUSIK GAMELAN JAWA ???

Sebuah fakta sejarah telah mengungkap bahwa nenek moyang alat musik gamelan yang sudah sangat terkenal justru dari tanah Sumatera, yaitu provinsi Lampung.

GAMOLAN , merupakan asal mula alat musik gamelan yang begitu mendunia. Belum lama ini telah terungkap fakta sejarah yang telah mengungkap sebagian sejarah musik Indonesia. Hal tersebut dapat dicapai setelah dilakukan penelitian selama 30tahun lebih dan juga pengumpulan fakta2 sejarah yang ada oleh seorang Profesor yang merupakan Guru Besar dari Monash University Australia. Beliau adalah Prof Margaret J Kartomi.

Saya hanya akan menjelaskan sejarah singkatnya saja karena sejarah alat musik GAMOLAN sangatlah panjang. Gamolan diciptakan pada abad ke-4 Masehi dan mengalami puncak perkembangan pada abad ke-5 Masehi. Gamolan berasal dari bahasa Sansakerta, yakni gamel yang berati memukul. Kemudian saat China masuk maka kata gamol diartikan sebagai berkumpul dan kemudian dikenallah gamolan.
Budaya asli Sumatera saat itu hanya berupa bambu bulat yang berfungsi sebagai kentongan. Setelah China masuk dan membawa kebudayan bambu maka terjadilah akulturasi dan membuat gamolan seperti saat ini, perpaduan antara bambu bulat dan lempengan. Gamolan terdiri dari delapan lempengan bambu dan memiliki kisaran nada lebih dari satu oktaf, lempengan bambu tersebut diikat secara bersambung dengan tali rotan yang disusupkan melalui sebuah lubang yang ada disetiap lempengan dan disimpul dibagian teratas lempeng. Penyangga yang tergantung bebas diatas wadah kayu memberikan resonansi ketika lempeng bambunya dipukul oleh sepasang tongkat kayu. Gamolan memiliki tangga nada 1 2 3 5 6 7 1. Cara bermainnya, dua orang pemain duduk dibelakang alat musik ini salah satu dari mereka memimpin (Begamol)memain

kan pola pola melodis pada enam lempeng, dan pemain satunya (Gelitak) mengikutinya pada dua lempeng sisanya. Lempeng lempeng pada Gamolan distem dengan cara menyerut punggung bambu agar berbentuk cekung, Gamolan dimainkan bersamasama dengan sepasang gong [Tala], drum yang kedua ujungnya bisa dipukul [Gindang] dan sepasang simbal kuningan [Rujih].GAMOLAN dan GAMELAN memiliki nama yang nyaris sama. Namun tangga nada GAMOLAN Lampung berdasarkan arkeologi atau instrumen ialah 1 2 3 5 6 7 1. Sedangkan GAMELAN Jawa Slendro instrumennya 1 2 3 5 6 7. Berdasarkan penelitian , Gamolan merupakan asla mula Gamelan seluruh dunia. Dalam bukunya “Musical Instrument of Indonesia” gamelan di Jawa saat ini adalah seperangkat alat musik. Seperangkat alat musik tersebut merujuk pada sebuah alat musik tunggal pada zaman dahulu. Dari hipotesa tersebut di Jawa tidak ditemukan alat musik yang bernama Gamelan. Ternyata alat musik tunggal tersebut ditemukan di Lampung. Fakta sejarah mengungkap alat musik gamolan sangat identik atau sama dengan alat musik yang ada pada relisf candi BOROBUDUR (8 masehi).

REKOR MURI GAMOLAN
Bandarlampung menggelar tabuh gamolan selama 25 jam nonstop dalam upaya memecahkan rekor MURI.
Acara pemecahan rekor Muri tabuh gamolan berlangsung di Lapangan Korpri Perkantoran Gubernur Lampung di Bandarlampung, Rabu, dibuka oleh Wakil Gubernur Lampung MS Joko Umar Said dan dihadiri peneliti gamolan asal Australia Prof Margaret J Kartomi.
Upaya pemecahan rekor Muri, gamolan itu dimainkan oleh 25 kelompok pemusik masing-masing memainkan alat musik tradisional itu selama satu jam. Saya merupakan salah satu peserta dari kelompok pertama. Masing-masing kelompok terdiri atas 25 pemain untuk memainkan gamolan selama satu jam, kemudian disusul hingga grup lainnya dan seterusnya untuk memainkan alat tradisonal Lampung itu.
Kelompok pemain musik gamolan itu tidak hanya siswa sekolah tetapi juga mahasiswa. Ke-25 kelompok penabuh gamolan itu yakni PGSD Unila, STAH Bandarlampung, Prodi Tari Unila, SD Fransiskus Tanjungkarang, SD Kartika II, SD 2 Rawa Laut, SD Xaverius Telukbetung.
Kemudian SDN 1 Budidaya Lampung Selatan, SMPN 14 Bandarlampung, SMP Muhammadiyah Bandarlampung, SMPN 22 Bandarlampung, SMP PGRI 3 Bandarlampung, SMPN 16 Bandarlampung, SMPN 2 Bnadarlampung, SMPN 4 Bandarlampung, SMKN 4 Bandarlampung.
Selanjutnya, SMA Fransiskus Bandarlampung, SMA Perintis I Bandarlampung, SMAN 7 Bandarlampung, SMAN 1 Gading Rejo, SMAN 9 Bandarlampung, SMA Al Kautsar Bandarlampung, SMAN 1 Bandarlampung dan SMAN 2 Bandarlampung.
Permainan alat musik itu berlangsung Rabu (7/12) sejak pukul 09.00 WIB hingga Kamis (8/12) pukul 10.00 WIB.

GAMOLAN KE UNESCO
Gamolan, alat musik khas Lampung, segera didaftarkan untuk mendapat pengakuan internasional dari United Nations Educational, Scientific, Cultural Organization (UNESCO). Alat musik dari bambu ini juga diupayakan mendapat hak kekayaan intelektual atau Haki dari Kementerian Hukum dan HAM.

Anggota Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL) Kota Bandar Lampung Fajar Ramadhan Muchtar, Rabu (14-12), di Bandar Lampung, mengatakan target utama dimunculkannya alat musik gamolan ini untuk mengenalkan ke publik dan mendapat pengakuan dari lembaga internasional.

“MPAL dan Pemprov Lampung terus mengusahakan gamolan mendapat sertifikat HAKI dan pengakuan UNESCO. Kami akan berkoordinasi dengan Departemen Luar Negeri. Perlahan-lahan HAKI dan pengakuan dunia harus didapatkan,” kata dia.

Fajar bersama dua rekannya, M. Kemal Sjachdinata dan Hasyimkan, juga terus mendorong untuk memperkenalkan gamolan kepada Indonesia dan dunia. Akan ada beberapa festival dan pameran internasional yang dimeriahkan dengan hadirnya gamolan.

Dia menjelaskan kegiatan pertama adalah Festival Indonesai di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Australia, Agustus mendatang. Dalam kegiatan ini gamolan akan ditampilkan dan diperkenalkan kepada dunia internasional.

Kegiatan kedua adalah seminar dan pameran internasional yang juga dilangsungkan di Australia, September mendatang. Dalam pameran ini akan disajikan gamolan dan berbagai pakaian adat Lampung. “Pameran dan seminar internasional di Australia merupakan kegiatan yang diadakan Margaret J. Kartomi sebagai peneliti gamolan. Dia akan menyelenggarakan seminar yang juga dihadiri beberapa pengurus MPAL. MPAL juga akan menyampaikan materi tentang kebudayaan Lampung,” ujar Fajar.

Fajar yang bergelar Raden Ningrat Natamarga ini mengatakan ada beberapa hal yang akan dilakukan untuk mengenalkan dan melestarikan alat musik pukul ini, yaitu dengan pengesahan instrumen yang akan melibatkan ahli dari instutut seni, produksi instrumen, dan pencetakan buku instrumen gamolan yang kemudian akan disebarkan ke sekolah-sekolah.

Dia menambahkan, orang masih salah menilai gamolan dengan menyebut dengan nama cetik atau gamolan pekhing (gamolan bambu). Padahal, namanya ya gamolan tidak ada nama yang lain. Pengenalan gamolan ini juga agar masyarakat tidak salah menyebut dan mengenali alat musik khas Lampung ini.